Festival Endhog-endhogan, Ribuan Telur Ayam Diarak dan Disantap Bersama Masyarakat

kecamatancluring
By -


  Festival Endhog-endhogan, Ribuan Telur Ayam Diarak dan Disantap Bersama Masyarakat
BANYUWANGI –Tradisi ngarak Endhog (telur) memperingati kelahiran Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriyah, digelar di Banyuwangi. Dalam gelaran Festival Endhog-endhogan tersebut, ratusan masyarakat hadir untuk menikmati bersama telur yang ditaruh dalam dalam ancak (semacam tumpeng) dan jodang di sepanjang jalan depan kantor Pemkab Banyuwangi, Selasa (19/1).
Endhog-endhogan adalah tradisi mengarak telur yang ditancapkan pada jodang pohon pisang dan ancak. Tradisi ini dilakukan hampir di setiap kampung dan desa di seluruh Banyuwangi sebagai peeingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Seperti tahun lalu festival yang dimulai pukul 15.30 WIB ini, diawali dengan arak-arakan jodang dan ancak, dari dua penjuru jalan sebelah utara dan selatan menuju kantor pemkab. Jika tahun lalu digelar di simpang lima tengah kota Banyuwangi, kali ini digelar di lokasi yang berbeda untuk memberikan nuansa lain perayaannya.
Dikatakan Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Wiyono, event ini digelar sebagai bentuk kecintaan kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang senantiasa diharapkan memberikan syafaatnya kelak.” Ini merupakan cara kami untuk terus menghidupkan tradisi dan kekayaan budaya Banyuwangi agar tak lekang oleh waktu. Peserta sengaja melibatkan semua lurah dan SKPD agar mereka juga memberi teladan memahami tradisi ini, sehingga tumbuh kecintaan pada budaya aslinya,” kata Wiyono saat membuka Festival Endhog Maulid ini.  
 Selain itu, kata Wiyono, acara ini juga untuk menumbuhkan kembali semangat kebersamaan membangun Banyuwangi. “Dengan tema “Menebar Sholawat, Mengunduh Cinta Nabi Muhammad, Banyuwangi Penuh Rahmat “ ini diharapkan Banyuwangi akan penuh dengan rahmat sesuai tema yang kita usung kali ini,” ujarnya.
Arak—arakan ini ratusan peserta. Masing-masing perwakilan membawa 3 ancak dan dua jodang yang dihias dan berisi ratusan telur untuk diarak dan dimakan bersama. Total jumlah telur yang dibagikan ke masyarakat dalam pawai ini, ada 2.000 butir dan 480 ancak.
Sembari berpawai, mereka menggemakan bacaan sholawat Nabi. Sehingga yang terasa bukanlah sekedar pawai arak-arakan, melainkan pawai yang menghidupkan gema sholawat nabi. Sambil diiringi tarian Islam, salah satunya Rodat Siiran.
Setelah arak-arakan terkumpul di satu titik, jodang telur dan ancak yang berisi tumpeng ini dibagikan ke masyakat untuk dimakan bersama-sama. Tidak ada perbedaan antara pejabat dan masyarakat, semua tanpa canggung berebut  telur dan tumpeng untuk di makan bareng-bareng. “Asyik, ada endhog-endhogan, selain insyalloh berkah tradisi ini juga menyenangkan,” kata Ainur R, salah seorang warga.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas & Protokol Juang Pribadi mengatakan tradisi endhog-endhogan ini biasa digelar di Banyuwangi sejak puluhan tahun yang lalu setiap Maulid Nabi Muhammad SAW tiba. Mengapa endhog?  Ini terkait dengan filosofi telur sendiri, di mana dalam telur memiliki tiga lapisan. Yakni, kulit (cangkang, Red), putih dan kuning yang ketiganya simbolisasi dari nilai-nilai Islam. Kulit bermakna Iman, Putih telur adalah Islam, dan Kuning diartikan Ihsan.
"Sedangkan telur yang ditancapkan pada jodang mengadung makna makna dan simbol kehidupan yang sangat bagus, dimana pohon pisang tak akan mati sebelum berbuah. Dan jika ditebas di dalamnya masih ada lapisan yang baru dan akan terus tumbuh. Inilah makna yang luar biasa dari tradisi endog-endhogan," pungkas Juang. (Humas Protokol)