Keluarga-eks-anggota-Gafatar-meninggalkan-penampungan-di-BLK,-Gang-Garuda,-Jalan Brawijaya,-Banyuwangi-kemarin.

kecamatancluring
By -

Keluarga-eks-anggota-Gafatar-meninggalkan-penampungan-di-BLK,-Gang-Garuda,-Jalan-Brawijaya,-Banyuwangi-kemarin.

BANYUWANGI – Tak sampai sepekan 18 eks  anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang ditampung di gedung Bina Loka Karya  (BLK) milik Dinas Sosial akhirnya diantar pulang ke kampung halaman masing-masing.

Kemarin (30/1) kelompok yang terdiri atas tiga kepala keluarga tersebut dijemput pemerintah kecamatan dan desa masing-masing. Pemulangan mereka disaksikan pejabat forum pimpinan daerah (forpimda) dan mendapat pengawalan  dari aparat kepolisian,  TNI, dan Tagana.

Sejumlah kerabat eks Gafatar juga hadir untuk membantu mengangkut barang-barang mereka. Salah satu kepala keluarga eks Gafatar asal Muncar, Paeno Hadi, mengatakan dirinya akan pulang ke rumah orang tuanya. Sebab, di Banyuwangi bapak tujuh anak itu tidak memiliki  tempat tinggal.

Sebelum naik mobil, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banyuwangi, Alam Sudrajat, berpesan kepada Paino agar tidak kembali ke tempat asalnya. “Ya kami juga butuh dorongan pemerintah untuk  terus maju,” ujarnya.

Kepulangan eks Gafatar dari tempat penampungan itu terbilang lebih awal daripada waktu  yang telah dijadwalkan. Sebelumnya, forpimda sepakat menampung mereka dalam waktu satu minggu. Alam menjelaskan, pemulangan lebih awal itu dilakukan karena pembinaan terkait pencerahan keagamaan dan wawasan kebangsaan dirasa  sudah cukup.

Seluruh pihak yang terlibat  dalam pembinaan memandang eks anggota Gafatar itu menunjuk  kan indikasi yang lebih baik  daripada semula. “Selain itu, keluarga dan masyarakat sudah ingin mereka kembali. Sebelumnya, sudah kami koor di nasikan  dengan camat dan kepala desa agar masyarakat mau menerima mereka kembali,” bebernya di sela-sela pemulangan eks Gafatar di gedung BLK, Gang Garuda, Jalan Brawijaya.

Alam menambahkan, meski sudah kembali ke kampung halaman, pemerintah akan tetap melakukan pendampingan. Terutama pendampingan untuk memberikan pendidikan formal kepada anak-anak eks Gafatar.  “Anak-anak mereka adalah  tanggung jawab kita bersama. Tidak hanya pemerintah. Kami  sudah berkoordinasi dengan  instansi mengenai hal ini. Selain  pendidikan formal, mungkin  malamnya mereka bisa ikut ngaji   atau kegiatan nonakademis lain,” ujarnya.

Yang disampaikan Alam itu disetujui salah satu tokoh partai politik, Supriyadi. Menurutnya, kondisi seperti itu harus disikapi seluruh kalangan, tidak hanya pemerintah. Terutama terkait pendidikan anak-anak eks Gafatar  (anak-anak eks Gafatar tidak ada yang mengenyam pendidikan formal sama sekali).

“Ini tidak  bisa bergantung pada APBD (anggaran  pendapatan dan belanja  daerah) saja. Masyarakat juga harus terlibat. Paling tidak kita  mendampingi kebutuhan pendidikan formal, sehingga mereka seperti anak-anak lain yang bisa  sekolah dan memiliki pengetahuan,”  bebernya. (radar)