Genjot Pemasaran UMKM, Banyuwangi Luncurkan Digital Market Place

kecamatancluring
By -

Genjot Pemasaran UMKM, Banyuwangi Luncurkan Digital Market Place


BANYUWANGI – Untuk lebih memperkuat daya saing pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Pemkab Banyuwangi meluncurkan digital market place yang diberi nama ”Banyuwangi Mall”. Ini merupakan situs belanja khusus bagi pelaku UMKM Banyuwangi yang beralamatkan di www.banyuwangi-mall.com.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, inisiatif ini merupakan dukungan pemerintah untuk mengembangkan UMKM, terutama dari aspek pemasaran. Platform ini diharapkan bisa mendorong terwujudnya ekosistem digital bagi UMKM lokal.
”Banyuwangi Mall dirancang untuk menjembatani antara produsen dan konsumen agar mereka bisa melakukan transaksi secara langsung tanpa perantara. UMKM Banyuwangi bisa mendapatkan jangkauan pasar yang lebih luas dengan digital market place ini,” ujarnya.
Program ini digagas Pemkab Banyuwangi dengan menggandeng PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Banyuwangi menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang memfasilitasi penjualan produk UMKM-nya melalui platform digital market place terintegrasi. ”Mengapa harus menggandeng bank? Karena akan sangat mahal kalau kita promosi sendiri. Dengan BNI, situs belanja ini bakal terpromosikan ke puluhan juta nasabah BNI tanpa kita harus susah payah promosi sendiri,” ujar Anas.
Pemasaran berbasis online, sambung Anas, kini menjadi kebutuhan wajib untuk mendongkrak daya saing UMKM. Saat ini jumlah pengguna internet (netizen) terus meningkat. Jumlah pengguna pengguna internet (netizen) di Indonesia telah mencapai lebih dari 85 juta.
Tren belanja melalui internet juga terus meningkat. Berdasarkan riset Brand & Marketing Research (BMI), diperkirakan 24 persen pengguna internet di Indonesia adalah penyuka belanja online. Rata-rata pengeluaran mereka dalam berbelanja online setiap tahunnya mencapai Rp 825.000. Tahun 2014 nilai transaksi belanja online di Indonesia Rp 21 triliun, dan tahun 2015 lalu diprediksi naik dua kali lipat hingga hampir Rp 50 triliun. Data lain dari Euromonitor menyebutkan, nilai belanja online di Indonesia mencapai hampir Rp 15 triliun.
Anas meyakini, pemasaran online ke depan akan menjadi model utama bisnis UMKM. Saat ini, berdasarkan data Euromonitor, porsi penjualan online terhadap total penjualan ritel di Indonesia baru mencapai 0,7 persen, masih jauh tertinggal dibanding negara lain.
”Tapi dengan tren ke depan, porsi belanja online akan terus meningkat. Ada ruang pertumbuhan yang besar. Dalam bisnis, kita tidak hanya bicara performa saat ini, tapi proyeksi. Istilahnya, kita coba membawa UMKM Banyuwangi mengantisipasi dan memenangkan masa depan,” kata Anas.
Anas menambahkan, pasar utama pemasaran produk dan jasa berbasis online adalah kelas menengah yang melek teknologi. Berdasarkan data Bank Dunia, kelas menengah di Indonesia yang mengeluarkan dana konsumtif Rp 60.000-300.000 per hari ada 44 juta orang dan yang mengeluarkan dana Rp 30.000-60.000 per hari ada 107 juta orang. ”Ini pasar yang besar, karena itu kami dorong UMKM Banyuwangi untuk memanfaatkannya,” jelas dia.
Selain itu, UMKM Banyuwangi juga mempunyai sasaran pasar yang unik, yaitu Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Mereka adalah orang dari Banyuwangi yang karena berbagai faktor, seperti pekerjaan dan keluarga, tinggal di kota lain. ”Ikawangi ini ikatan solidaritasnya kuat. Setiap tahun kumpul di Jakarta, Bali, Surabaya, Papua, jumlahnya ribuan. Bahkan di Papua kemarin diresmikan Gedung Ikawangi yang megah. Mereka ada yang jadi kapolres, kepala dinas, bupati, anggota DPR, pengusaha direktur bank, dan sebagainya. Ini pasar potensial,” ujar Anas.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Alief Rahman Kartiono mengatakan, pada tahap awal ini telah dipilih 28 pelaku UMKM Banyuwangi yang berhasil memenuhi standar kualifikasi tertentu untuk dipasarkan di Banyuwangi Mall. ”Dari jumlah UMKM itu, ada 165 item produk yang telah diunggah. Secara bertahap, UMKM yang lain akan dimasukkan. Target kami bisa lebih dari 3.000 UMKM Banyuwangi masuk di situs belanja ini,” ujar Alief.
Produk yang ditawarkan lewat market place ini antara lain sektor pariwisata yang menawarkan paket perjalanan ke sejumlah destinasi wisata Banyuwangi, produk perikanan yang menjual berbagai olahan ikan seperti sarden dan ikan asin. Selain itu, ada produk pertanian dan olahannya, serta beragam kerajinan khas Banyuwangi. ”Tak lupa, beragam batik khas Banyuwangi juga dipasarkan,” kata dia.
Rumah Kreatif UMKM
Pemkab Banyuwangi sendiri telah melatih 5.000 pelaku UMKM untuk ditingkatkan kualitas produknya. Secara bergiliran, UMKM-UMKM itu telah dilatih khusus untuk bisa masuk kemarket place. Pemkab Banyuwangi memfasilitasi pembentukan ”Rumah Kreatif” yang berada di Jalan Ahmad Yani sebagai pusat operasional Banyuwangi Mall. Di gedung ini, aktivitas mulai dari administrasi, penanganan order, pengiriman barang, hingga kegiatan kreatif seperti pemotretan produk dan desain grafis UMKM dilakukan.
”Jadi UMKM yang akan masuk ke digital market place, digodok di Rumah Kreatif ini. Akan diperiksa mutu dan kemasan produknya. Yang belum memenuhi syarat, misalnya perlu uji laboratorium keamanan pangan, diarahkan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mendapatkan fasilitasi uji laboratorium gratis,” pungkas Alief. (humas)